Cerdaslah Menggunakan Buzzer Kompasiana. com

      Comments Off on Cerdaslah Menggunakan Buzzer Kompasiana. com

Penetrasi web di Indonesia yang kedua tertinggi di dunia dalam 5 tahun terakhir telah melahirkan kebutuhan baru pada brand untuk mengekspansi market ke ekosistem online khususnya social media. Seiring dengan itu lahirlah bisnis baru: social buzzer. Mereka adalah pihak yang menggunakan popularitas dan pengaruhnya untuk ikut mempromosikan produk pihak lain. Di Indonesia, setidaknya ada 2. 000 akun buzzer Twitter dengan tarif berkisar antara Rp5 ribu Rp20 juta per tweet iklan yang ditayangkan.

Ukuran pertama brand dalam memilih buzzer iklan di Twitter adalah popularitasnya yang diukur dari jumlah follower. Semakin banyak followernya, makin tinggi tarifnya. Namun justru di sinilah ilusi terbesarnya dan menjadi ladang buzzer mengeruk uang. Satu sisi brand belum memiliki kemampuan mengolah analytic data di social media. Di sisi lain buzzer ‘menyembunyikan’ analytic data itu dan selalu menggunakan ilusi bahwa pengaruh mereka adalah sebesar jumlah follower.

Bila anda ingin memanfaatkan secara maksimal uang dan investasi anda dalam menggunakan buzzer, mari kita ubah cara pandang kita tentang cara beriklan di Twitter dan buzzer. 1. MEMBAYAR IMPRESSION, BUKAN FOLLOWER Berhentilah berkubang dalam follower game number. Ini adalah lubang utama yang sangat fatal. Benar bahwa acuan pertama anda memilih buzzer karena jumlah followernya dan berharap follower mereka menyaksikan iklan anda. MENYAKSIKAN adalah kata kunci dari tujuan anda.

Dalam periklanan, iklan yang disaksikan disebut IMPRESSION atau KETERBACAAN, dari situ awareness didapat. Di social media, khususnya Twitter, bisa diketahui secara presisi berapa orang yang telah membaca/menyaksikan sebuah tweet. Datanya ditampilkan dalam bentuk angka, real time dan old. Tidak ada asumsi dan tebak tebakan di sini. Jumlah follower hanya diartikan sebagai Potential Impression, atau seberapa banyak orang yang berpotensi menyaksikan iklan anda. Potensi bukan kenyataan, tapi di sini ilusi terbesarnya.

Jangan pernah berasumsi impression yang anda dapat sama dengan jumlah follower. Tidak ada orang yang hidup 24 jam di depan Twitter dan memandangi timeline sebuah akun terus menerus. Jadi, berapa pun jumlah follower mereka alat ukur pertama anda adalah influence. Twitter sudah menyediakan Twitter Analytic secara gratis di setiap akun untuk mengetahui data berapa banyak orang yang telah menyaksikan sebuah tweet. Pertanyaan pertama anda kepada buzzer adalah: Berapa IMPRESSION RATE anda?Jawabannya harus dalam bentuk persen.

Jadi, impact rate buzzer tersebut 1% dari jumlah followernya, atau 1. 000 influence. Angka 1. 000 ini menjawab pertanyaan anda: berapa orang yang akan menyaksikan per tweet iklan saya di akun tersebut?1. 000 orang.

Bagaimana cara anda mengetahui effect rate?Pertama, minta mereka membuka dashboard Twitter Analytic mereka langsung di depan mata anda. Kedua, bila tidak bisa bertemu langsung, minta mereka mengirimkan screenshot impression dalam 30 hari dari dashboard Twitter Analytic mereka. Impression @KotaBalikpapan 1 28 Februari 2015/Social Lab Bila mereka menolak dua cara di atas, saya tidak akan menyarankan anda menggunakan buzzer yang tidak terbuka pada kliennya, atau tak tahu cara berurusan dengan data. Hanya ini cara anda mengukur value utama sebuah buzzer, bukan lewat followernya. Impression rate di atas hanya terbatas pada buzzer itu saja. Di social media, semua konten bisa diinteraksikan engagement yang otomatis akan menambah jumlah impact di luar buzzer.

Engagement di Twitter ada dalam bentuk retweet, favorite, reply dan point out yang dilakukan para follower dan bukan follower buzzer. Sehingga, influence tidak hanya digantungkan dari akun buzzer itu sendiri. Dari sini mulai rumit, tapi justru di sini kuncinya. Anda beriklan di buzzer menginginkan impact, jadi BAYAR IMPRESSION NYA, BUKAN JUMLAH IKLANNYA. Caranya: Pertama, tentukan jumlah impression yang anda inginkan dalam waktu tertentu. Misalnya goal anda adalah mendapatkan 1.

000. 000 influence dalam 30 hari. Kedua, serahkan 1. 000. 000 goal impact itu kepada buzzer.

Anda tidak perlu lagi membahas iklan anda akan tayang berapa kali, itu urusan buzzer. Yang penting dalam 30 hari anda mendapatkan 1. 000. 000 influence. Soal bagaimana caranya, biar buzzer yang memikirkan.

Kedua, serahkan 1. 000. 000 goal impact itu kepada buzzer. Anda tidak perlu lagi membahas iklan anda akan tayang berapa kali, itu urusan buzzer. Yang penting dalam 30 hari anda mendapatkan 1.

000. 000 influence. Soal bagaimana caranya, biar buzzer yang memikirkan. Ketiga, bayarlah tarif jasa per impression, bukan per tayangan. Anda bisa memakai acuan indeks harga terbaru cost per mille CPM atau cost per impact CPI iklan online sesuai industri anda. Indeks CPM/CPI terbaru bisa anda temukan di Monetizepros.

See also  How to Optimize Your Google My Business Listing Moz

Rata rata CPI saat ini adalah $3 atau Rp40. 000 per 1. 000 influence, atau Rp40/impact. Jadi, bila anda ingin mendapatkan 1. 000.

000 effect berarti anda harus membayar Rp40 x 1. 000. 000 atau Rp40 juta. Tentu saja anda bisa melakukan negoisasi tarif CPM/CPI dan jumlah goal influence ini kepada buzzer. Keempat, lakukan monitoring berkala capaian effect dari waktu ke waktu menggunakan tools seperti Tweetreach gratis, Keyhole gratis dan Tweetbinder gratis yang akan menampilkan sudah seberapa banyak impact yang anda dapatkan.

Monitoring ini bisa anda lakukan sendiri tanpa meminta akses apa pun dari buzzer. Minta juga laporan effect dari buzzer yang bisa mereka dapatkan dari dashboard Twitter Analytic, misalnya seminggu sekali. Data dari dashboard Twitter Analytic jauh lebih akurat dan detil serta bisa di down load kapan saja dalam bentuk Excel. Dari situ bisa diketahui berapa influence yang dicapai per tweet. Tapi dashboard Twitter Analytic hanya mengukur impact yang dihasilkan oleh akun buzzer itu saja. Untuk mengukur impression secara keseluruhan dari buzzer maupun non buzzer, harus menggunakan analytic tool seperti Tweetreach, Keyhole, Tweetbinder atau Simply Measure berbayar.

Impression detail @KotaBalikpapan Impression detail @KotaBalikpapan, Excel version Impression detail, WeloveBalikpapan from @KotaBalikpapan Impression of 50 lastest tweets WeLoveBalikpapan by Tweetreach/Social Lab Kelima, lakukan pembayaran per termin berdasarkan influence. Jangan lakukan pembayaran penuh di depan untuk memastikan mereka komit dengan goal impact anda. Misalnya goal anda 1. 000. 000 influence dalam 30 hari 4 minggu dengan tarif Rp40 juta. Maka termin bisa dibagi 250.

000 impression/minggu atau Rp10 juta/minggu. Dengan cara seperti ini, anda bisa mendapatkan hasil yang jauh lebih maksimal, terukur, objektif dengan menggunakan energi yang minimal. Cara ini juga membuat buzzer fokus mewujudkan tujuan anda. 2. MEMBAYAR VIRAL, BUKAN BROADCAST Kesalahan bermula ketika anda menganggap kekuatan social media adalah broadcast seperti media konvensional. Kekuatan social media adalah viral atau penularan.

Viralitas ini dilakukan lewat engagement, yang di Twitter dilakukan lewat retweet, point out, reply dan favorite. Lewat engagement lah sebuah konten bisa viral dan otomatis anda mendapatkan influence lebih tinggi. Agar sebuah konten bisa viral, ia mesti bisa mengumpan engagement lewat konten yang menarik dan cara interaksi si buzzer kepada para followernya. Jadi, bila tujuan anda adalah impression, anda otomatis meminta buzzer agar menjadikan iklan anda viral bukan hanya menayangkan broadcast. Bagaimana cara iklan anda bisa viral?Biar buzzer yang memikirkannya dan mencapainya buat anda. 3.

MEMBAYAR HASIL, BUKAN SLOT IKLAN Anda punya tujuan dan hasil yang jelas, bisa diukur dan objektif karena rupiah anda jelas nilainya, lalu minta buzzer melakukannya untuk anda. Anda membayar buzzer agar mereka menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan tujuan anda. Bagaimana caranya, biarlah mereka yang memikirkannya. Bila anda melakukan 3 hal di atas, maka otomatis buzzer akan melakukan hal berikut ini: 1. Mengkurasi konten Pernah kah anda pusing memikirkan bagaimana cara membuat materi tweet iklan yang baik?Wajar saja, karena mungkin itu bukan keahlian anda. Tapi anda juga tahu kualitas materi tweet sangat berdampak pada influence dan viralitas, serta tentunya pesan yang ingin anda sampaikan.

Bila anda menyerahkan campaign dan menargetkan impact kepada buzzer, otomatis mereka akan berpikir keras bagaimana mengkurasi mempersiapkan, membuat, memproduksi konten yang bisa membuat target impact tercapai. Maka serahkan tugas mengkurasi konten ini kepada mereka dan minta beberapa model tweet untuk anda sortir/pilih. 2. Memilih waktu dan volume tayang Tahukah anda, umur sebuah tweet hanya 3 jam dan hanya ada waktu 18 menit bagi sebuah tweet agar bisa populer. Hal ini saya jelaskan di tulisan Waktu Terbaik Berpomosi di Twitter and Facebook. Pemilihan waktu tayang sangat penting untuk mendapatkan impact dan viral.

Masing masing akun juga memiliki peak hour yang unik. Tapi anda tak perlu memusingkan ini. Bila buzzer diberi target effect, otomatis mereka akan memilih waktu tayang terbaik untuk mencapai target. 3. Mengelola Engagement Engagement lah yang membuat konten menjadi viral, bukan broadcast.

Bila anda membayar per iklan tayang, maka iklan anda hanya tayang. Buzzer tidak akan peduli bila ada orang yang melakukan engagement seperti bertanya atau menanggapi. Tapi bila impression menjadi target mereka, maka tak ada cara lain bagi mereka untuk melakukan engagement di crusade anda. Artinya, iklan anda tidak akan terlantar setelah ia tayang. Ia akan terus dipelihara dan dikelola oleh buzzer sampai target effect tercapai. 4.

See also  Three reasons why you need to evaluate new DSPs in – Finance Market House

Bekerjasama dengan Buzzer Lain Sangat mungkin buzzer anda kesulitan mencapai target impact sehingga mereka harus menggandeng buzzer lain agar target tercapai. Mereka akan mengeluarkan uang untuk itu, bukan anda. Cara ini biasa dipakai oleh pengiklan besar yang sudah tahu cara melakukan crusade di social media. Mereka akan bekerjasama dengan Advertising Agency, memberi target effect, dan agen iklan akan menggandeng banyak buzzer untuk sama sama mencapai target. Dengan cara ini, anda otomatis menjadikan buzzer sebagai agen iklan tanpa harus keluar uang lebih.

5. Berorientasi Deadline Deadline atau tenggat waktu sangat penting untuk campaign yang terbatas waktu seperti event, hot deal, launching produk, dll. Buzzer dituntut untuk mencapai goal influence dalam batas waktu. Bahkan anda bisa memberlakukan pinalti bila buzzer tidak bisa mencapai goal effect dalam waktu yang ditentukan. Dengan pola di atas, buzzer tidak akan bisa santai dan meremehkan campaign anda. 6.

Melaporkan Hasil Karena orientasi anda adalah hasil, maka buzzer wajib melaporkan hasil pencapaian mereka dalam skala waktu tertentu dalam bentuk analytic data. Bila memungkinkan, lakukan pertemuan langsung di mana anda bisa melihat sendiri data dari dashboard Twitter Analytic diunduh dan ditampilkan. Pelaporan juga bisa dilakukan secara online. Minta mereka mengirimkan rekaman video display capture yang kemudian diunggah ke Youtube atau teleconfrence menggunakan Teamviewer, yang menunjukkan mereka mengakses data Twitter Analytic, men down load, dan membuka file Excel. Ini untuk memastikan mereka tidak memanipulasi angka pada file Excel hasil Twitter Analytic. Cara cara di atas mungkin akan membuat buzzer mengenakan tarif lebih tinggi, namun anda akan mendapatkan hasil sesuai dengan yang anda inginkan di samping bisa negoisasi harga.

Faktanya, sangat banyak pengiklan yang membayar tarif tidak murah per iklan tayang, tanpa tahu hasilnya. Mereka menghabiskan uang yang tidak sedikit di buzzer dan berasumsi iklan mereka dilihat sebanyak jumlah follower sekali tayang. Itu hanya ilusi, dan tidak sedikit buzzer menggunakan ilusi itu untuk menguras uang anda. Cara ini mungkin juga cukup merepotkan anda. Terutama bila goal effect anda tinggi, ditargetkan di beberapa neighborhood sehingga tak mungkin campaign dilakukan lewat satu buzzer saja. Di sisi lain bekerjasama dengan banyak buzzer dengan pola seperti ini harus saya akui sangat merepotkan.

Maka solusinya adalah: 1. Bekerjasama dengan Advertising Agency Serahkan campaign anda ke Ads Agency yang bidangnya adalah online ads. Misalnya goal impact anda adalah 3 juta dalam 30 hari dengan target audien 7 kota di Provinsi Kalimantan Timur. Maka agen yang akan memilih dan mengontrol semua buzzer yang digunakannya. Anda hanya perlu berhubungan dengan satu agen dengan pola kerja seperti di atas. 2.

Tunggu Pay per Impression dari Twitter Ads Tahun 2015 ini Twitter akan mengeluarkan fitur Pay per Impression pada Twitter Ads/Promoted Tweet yang langsung ditangani Twitter. Jadi, anda membayar langsung ke Twitter, menyerahkan materi iklan, memilih audien berdasarkan lokasi dan berapa impact yang anda inginkan. Twitter akan menayangkan iklan anda langsung ke timeline audien dengan lokasi yang anda pilih sampai target impression tercapai. 3. Alihkan ke Facebook Facebook sudah lebih dulu mengeluarkan fitur Pay per Impression lewat Facebook Ads.

Anda bahkan bisa memilih demografi audien yang sangat spesifik: lokasi, usia, gender dan attention. Facebook ads saat ini bertarif Rp2 / reach influence. Jadi bila goal anda 1 juta impression reach, anda membayar Rp2 juta langsung ke Facebook. Pada akhirnya, pengetahuan anda tentang bagaimana cara kerja beriklan di social media sangat menentukan hasil investasi anda. Bila buzzer tidak mau memakai pola di atas dan hanya ingin menetapkan tarif per tayangan iklan, saya sangat tidak menyarankan anda bekerjasama dengan mereka. Kemungkinan alasan buzzer menolak adalah: Mereka tidak tahu cara mengakses, mendapatkan, mengelola atau membaca analytic data.

Mereka hanya sekedar orang yang gemar ber Twitter dan memiliki banyak follower. Mereka tidak mau repot, yang artinya tidak bersungguh sungguh dalam bisnis yang mereka jalankan. Mereka memiliki banyak follower palsu yang otomatis tak bisa menghasilkan effect dan engagement. baca juga tulisan saya: Tabir Gelap Industri Follower and Liker Palsu Mereka tidak tahu cara untuk mendapatkan impression dan engagement. Mereka hanya sebatas tahu menulis teks di timeline.

Mereka lebih banyak mengoperasikan akun secara otomatis robot dan memantau sesekali saja. Mereka hanya ingin uang anda dan mengambil untung dari ketidaktahuan anda.